animasi

animasi blog

Senin, 15 Februari 2016

aku ingin mati



 
Peristiwa ini terjadi setahun yang lalu. Suatu malam, temanku yang bernama Yoshiki baru saja putus karena ceweknya ingin belajar ke luar negeri. Aku ingin menghiburnya, jadi aku mengundangnya dan beberapa teman lain untuk makan-makan di tempatku. Kami berenam akhirnya berkumpul malam itu dan mulai berpesta mulai dari jam 9 malam.
“Hei, ayo nyalakan TV!” kata temanku, Masato saat tengah malam. Aku mengambilkannya remote dan kami berkumpul di depan TV untuk menyaksikan acara tengah malam.

Seperti biasa, acara-acara pada jam itu hanyalah berita, variety show, dan acara-acara membosankan lainnya. Namun suatu kali salah satu channel yang kami tonton tiba-tiba menayangkan suatu tayangan statik (seperti yang biasa kalian lihat di layar saat acara di stasiun TV habis).
“Apa TV kamu rusak? Masa jam segini acaranya sudah habis?”
“Tidak, aku yakin TV-ku dalam keadaan bagus,” jawabku, “Mungkin sinyalnya kurang bagus.”
Namun tiba-tiba sesuatu muncul di layar.
Di antara garis-garis buram hitam putih, muncul kata “AKUINGINMATI.COM”
“Apa itu?” kata itu hanya muncul beberapa detik, namun aku tahu bahwa aku melihatnya. Layar kembali seperti semula.
“Teman-teman, apa itu tadi?” mata Yoshiki terpaku ke layar televisi.
“Itu tadi tulisannya akuinginmati.com kan?” kata Shun, salah satu teman kami.
“Ya, itu tadi bunyinya. Benar-benar membuatku ketakutan tadi.” jawabku. “Aku akan mematikan televisinya saja. Hal tadi benar-benar terlalu aneh buatku.”
“Ya...” teman-temanku yang lain juga setuju.
“Apa kamu keberatan jika aku memakai komputermu untuk mencarinya di internet?” tanya Yoshiki tiba-tiba.
“Mengapa kau mau mencarinya?” tanyaku heran, “Apa kamu tidak ketakutan tadi? Lagipula, apa itu tadi benar-benar nyata? Maksudku, kita mungkin salah lihat ...”
“Tapi kita semua melihatnya kan? Mungkin itu salah satu taktik viral marketing untuk acara TV baru atau apalah. Mungkin seru.” Ia mengabaikan peringatanku dan mulai menggunakan laptopku.
Ia menggunakan berbagai mesin pencari untuk menemukan “akuinginmati.com” namun hasilnya nihil. Kemudian salah satu dari kami menyarankan untuk mengetikkannya langsung di address bar.
Akuinginmati.com

Tiba-tiba muncul layar merah dengan tulisan,
“Apakah kau mau mati bersamaku?”

Tulisan itu membuat bulu kudukku berdiri. Layar kemudian berganti ke wajah seorang wanita yang berlumuran darah.
”Sial, matikan itu! Cepat!”
Yoshiki yang sepertinya juga ketakutan akhirnya mematikan komputer.
“Ada yang tidak beres...aku bisa merasakannya...” bisikku.
“Mungkin hanya viral marketing konyol.” Yoshiki bersikeras.
“Well, kurasa itu cukup keterlaluan!” komentar Masato kesal. Ia sudah bersiap untuk mengatakan sesuatu yang lain ketika tiba-tiba layar televisi menyala dengan sendirinya.
“Apakah kau mau mati bersamaku?” volume suara itu sangat tinggi dan wajah wanita yang sama muncul di layar televisi. Saat dimana mataku bertatapan dengan mata wanita itu, saat itulah aku tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Ketika aku bangun, hari sudah hampir fajar dan teman-temanku masih terjaga.
“Tu...tunggu, siapa wanita itu?” tanyaku dengan keringat dingin.
“Hah? Apa maksudmu?”
“Kalian tahu apa yang kubicarakan! Siapa dia?” teman-temanku terlihat kebingungan ketika melihatku mulai panik.
“Apa yang kau bicarakan? Apa kau mengigau?” Masato berusaha menenangkanku, namun aku hanya bertambah bingung.
Sepertinya mereka sama sekali tak mengerti apa yang kubicarakan. Aku menjelaskan semua yang terjadi sebelum aku jatuh pingsan, tentang situs aneh dan wajah wanita itu, namun tak ada yang mempercayai perkataanku.
“Mungkin kau bermimpi. Aku tak ingat hal semacam itu terjadi tadi malam.”
“Mimpi? Itu tidak masuk akal!” aku bersikeras, “Aku pingsan semalaman, bukan tertidur!”
“Ini akibatnya jika kamu makan terlalu banyak.” kata Yoshiki sambil tertawa. Namun aku yakin itu semua bukan mimpi. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Untuk membuktikannya, aku mengecek history komputerku, namun tak ada jejak situs akuinginmati.com dimanapun.
Semua ini benar-benar aneh.
Pagi itu semua teman-temanku pulang kembali ke rumah mereka. Ketika aku hendak berangkat kerja siangnya, aku mendapatkan telepon dari Yoshiki.
“Hei, bisakah aku menanyakan sesuatu tentang semalam.” Ia terdengar serius.
“Ehm...tentu...”
“Apakah kau ... ah, sudahlah. Bukan apa-apa kok. Sori sudah mengganggumu.” Ia menutup telepon sebelum aku dapat kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Aku mencoba untuk meneleponnya kembali, namun berkali-kali hanya masuk ke voice mail. Ia pasti mematikan teleponnya. Namun mengapa?
Aku tak pernah melihatnya lagi semenjak itu. Tak ada seorangpun di antara teman-temanku yang tahu dimana dia. Ia tiba-tiba saja menghilang.
“Mungkin ia perlu sendirian, kau tahu?” kata mereka ketika aku menanyakan dimana ia berada. “Ia baru saja putus dengan pacarnya. Berilah ia sedikit waktu.”
Namun aku tak mempercayainya.
Setelah Yoshiki menghilang, aku mencari akuinginmati.com berkali-kali. Namun tak peduli berapa kali aku mencarinya, aku tak pernah menemukannya lagi. Aku menyaksikan acara TV tengah malam, namun pesan itu tak pernah muncul kembali. Semua teman-temanku mengatakan bahwa aku berhalusinasi dan memaksaku untuk menghentikan semua paranoiaku.
Setahun berlalu dan suatu hari tanpa sengaja aku bertemu dengan mantan kekasih Yoshiki yang baru saja pulang dari Kanada. Ia mengatakan bahwa beberapa hari setelah mereka putus, ia sempat mendapatkan telepon darinya.
“Ia menelepon ke asramaku. Sebenarnya aku tak ingin menjawabnya, namun kupikir karena ia menelepon dari Jepang, pastilah itu sangat penting.” Ia bercerita, “Namun ia terdengar aneh. Ia bertanya kepadaku, ‘Apakah kau mau mati bersamaku?’”
“Apa?!” aku tak bisa mempercayainya.
“Aku pikir ia sedang mabuk , sehingga aku mengabaikannya. Namun aku ingat malam itu dia membicarakan tentangmu juga.” ia menatapku dengan sedih, “Ia ingin aku mengatakan padamu bahwa ia baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkannya.”
Yoshiki hingga kini masih menghilang. Aku tak bisa berhenti berpikir bahwa apa yang mantan Yoshiki katakan bukanlah kebetulan. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yoshiki. Namun hingga saat ini jika aku mengungkit kejadian malam itu, semua teman-temanku bersikeras bahwa itu hanyalah mimpi. Bahkan mereka berbuat lebih jauh dengan melarangku untuk membicarakan tentang hal itu lagi. Aku tak tahu kenapa ....
 
sumber: http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/06/urban-legend-1-akuinginmaticom.html

1 komentar: