animasi

animasi blog

Selasa, 23 Februari 2016

The Maid

Hasil gambar untuk creepy pasta the maid 

Seorang pria sedang dalam perjalanan dinas ke luar kota ketika ia memutuskan untuk menghubungi istrinya di rumah lewat telepon. Ia terkejut ketika mendengar suara wanita yang tidak dikenalnya di telepon.
“Siapa kau?” tanya sang suami.
“Saya pembantu yang bekerja di rumah ini.” jawabnya.
“Kami tak punya pembantu di rumah kami.” kata sang suami dengan curiga.
“Saya baru saja mulai bekerja hari ini. Nyonya rumah yang memperkerjakan saya.”
“Dapatkah kamu memberikan telepon ini pada istriku?” pria itu semakin curiga.
“Beliau sedang beristirahat di kamarnya sekarang,” sang pembantu terdiam sebentar sebelum akhirnya ia melanjutkannya perkataannya kembali, “Saya pikir pria yang berada bersamanya di kamar tidur itu suaminya ...”
“Apa?!” sang suami terkejut. Sebuah akal kemudian muncul di kepalanya, “Apa kau mau uang 50 juta?”
“Apa yang anda inginkan untuk saya lakukan?” ia terdengar ragu-ragu, namun uang 50 juta terdengar sangat banyak untuknya.
“Ada pistol di laci meja telepon. Seharusnya pistol itu sudah terisi. Aku ingin kamu naik ke atas dan menembak mereka. Mengerti?”
“Ba...baik. Saya akan mencobanya.”
Sang pembantu pergi tanpa menutup teleponnya. Sang suami bisa mendengarnya menarik laci, melangkah naik ke atas, dan kemudian terdengar samar dua suara letusan tembakan sebelum akhirnya terdengar langkah kaki mendekat ke arah telepon.
“Halo?” tanya sang pembantu. Sang pria tersenyum dengan puas.
“Kau bekerja dengan sangat bagus. Jauh lebih bagus daripada dugaanku.”
“Terima kasih. Apa yang harus saya lakukan dengan jenazah mereka?”
“Pertanyaan bagus. Tenggelamkan saja mereka di kolam renang.”
“Kolam renang? Kolam renang yang mana? Rumah ini tidak memiliki kolam renang.”
Keduanya hanya terdiam.

sumber: http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/04/urban-legend-3-maid.html


Eyeglasses

Hasil gambar untuk creepy pasta eyeglasse


Aku baru berumur 7 tahun ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku sebuta kelelawar. Sebenarnya kelelawar tidaklah buta. Mereka memiliki penglihatan, namun sangat buruk. Seperti itulah kondisiku. Aku belum pernah mengikuti tes penglihatan sehingga aku beranggapan bahwa orang lain melihat sebagaimana aku melihat dunia. Aku hanya melihat bayangan-bayangan kabur, figur yang samar-samar, cukup untuk membuatku tidak menabrak mereka. TV bagiku adalah radio yang dilengkapi dengan permainan cahaya dan aku hanya bisa membedakan mainanku dari warna-warnanya. Ketika aku tak kunjung belajar membaca, orang tuaku membawaku ke rumah sakit dan akhirnya mengetahui kekuranganku.
Duniaku berubah selamanya ketika aku mendapat kacamata pertamaku.
Aku melihat segalanya! Aku melihat kamar dokter mata, dinding, langit-langit, tanganku, dan orang-orang yang ada di ruangan. Aku melihat ayah, ibu, dokter, dan para perawat. Dengan takjub aku melihat warna mata ayahku untuk pertama kalinya.
Namun untuk pertama kalinya pula aku masih melihat beberapa orang di ruangan tetaplah samar, gelap, dan kabur. Mereka ada banyak dan aku tahu mereka mengawasiku seperti aku mengawasi mereka.
Dan aku menyadari kaki mereka tak menyentuh tanah.

sumber:  http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/04/urban-legend-2-glasses.html


kagome kagome

Hasil gambar untuk creepy pasta kagome


Note: Kagome Kagome adalah sebuah lagu yang mengiringi permainan tradisional Jepang. Dalam permainan ini, sekelompok anak (minimal 7) akan membentuk lingkaran dengan satu anak di tengah berperan sebagai “oni” atau “setan”. Anak tersebut akan ditutup matanya, kemudian teman2nya di sekelilingnya akan menyanyikan lagu “Kagome Kagome”. Setelah lagu tersebut selesai, anak tersebut harus menebak nama anak yang ada di belakangnya. Bila ia benar, maka anak itu akan digantikan oleh anak yang tertebak namanya tersebut, begitu seterusnya (sumber: wikipedia).
Kakak perempuanku datang ke rumahku untuk pertama kalinya sejak 3 tahun terakhir. Aku belum pernah melihat keponakanku, namun sepertinya ia telah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Karena beberapa tanda lahir di wajah dan tubuhnya, ia tak memiliki banyak teman seumuran. Namun ia memiliki banyak tenaga untuk bermain dan ketika ia lelah, aku memutuskan untuk menyanyikannya sebuah lagu.
Kagome, Kagome
Ada burung di perut naga
Kapan? Kapan? Kapan ia akan keluar?
Bangau dan kura-kura, tergelincir saat malam sebelum fajar
Siapa di belakangmu?
“Hei, apa bibi tahu lagu ini sebenarnya tentang membunuh bayi dalam kandungan?”
Aku hanya terdiam karena tak menyangka ia akan mengatakan hal seperti itu. Keponakanku itu hanya menatapku, menunggu jawabanku.
“Maksudku ibu yang menyanyikan lagu ini ketika anaknya masih berada dalam perutnya sebenarnya ingin bayinya mati. Menyeramkan kan?” katanya lagi.
“Apa maksudmu aborsi?” aku tak begitu yakin anak sekecil itu sudah tahu makna kata itu, “Ya...itu memang menyeramkan.”
“Aborsi itu artinya ibu mengambil sebuah tongkat keras kemudian ditusukkan ke tempat bayi agar keluar dari perut. Setelah itu, bayinya akan dibuang ke tempat sampah.”
Astaga, pikirku. Darimana anak sekecil ini memiliki bayangan semengerikan itu? Apa yang kakakku ajarkan pada anak ini?
“Darimana kau belajar hal semacam itu?” tanyaku. Aku takut ia mendapatkannya dari teman-temannya.
“Bahkan di dalam perut mama, aku bisa mendengar dan merasakan ... Rasanya sakit sekali dan aku benar-benar takut. Aku menangis kalau ingat hal itu.”
Sejak saat itu aku benar-benar memperhatikan tanda-tanda lahir yang ada di sekujur tubuh keponakanku.

sumber: http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/04/urban-legend-1-kagome-kagome.html

Selasa, 16 Februari 2016

FOREST OF NIGHTMARE & THE BIRTH OF A DEMIGOD

 Hasil gambar untuk creepy pasta FOREST OF NIGHTMARE & THE BIRTH OF A DEMIGOD



“Tolong!” jerit gadis itu, “Tolong kami!”
Ia berlari menembus hutan. Di benaknya kembali terngiang pemandangan mengerikan ketika ia dan pacarnya bertemu makhluk itu di tengah hutan. Makhluk berjas hitam itu jelas bukan manusia. Ia terlalu tinggi untuk ukuran manusia biasa. Wajahnya ... ia sama sekali tak memiliki wajah ... dan tentakelnya ....
Ia tak bisa menghapus bayangan dimana tentakel-tentakel itu merobek tubuh kekasihnya tanpa ampun. Gadis itu bisa selamat karena makhluk itu terlalu sibuk mencabik-cabik tubuh pacarnya hingga tak berbentuk.
Seharusnya ia mendengar peringatan kedua orang tuanya. Seharusnya ia dan pacarnya tak pergi ke hutan ini untuk bermesraan. Dan kini, takkan ada seorangpun yang mendengar teriakannya minta tolong. 

sumber: http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/

My Daughter

Hasil gambar untuk creepy pasta my daughter 
 Tiap malam, anak perempuan kami selalu menangis, membuat kami terbangun. Aku dan istriku tak pernah bisa tertidur. Suara tangisannya makin menjadi-jadi tiap malam. Aku tak mengerti kenapa ia tak mau berhenti menangis. Maksudku, aku mencintainya. Aku memenuhi semua yang ia inginkan. Aku selalu membawakannya boneka. Aku selalu membawakannya bunga. Aku mengunjungi makamnya tiap hari. Apa lagi yang kurang? 

sumber: http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/01/urban-legend-8-my-daughter.html

Elevator

Hasil gambar untuk creepy pasta elevator

Kebetulan malam itu aku berada satu lift bersama Lucy, mahasiswi kedokteran tercantik ke kelas kami. Hanya ada kami berdua di dalam lift itu. Malam itu memang sudah larut. Hampir semua orang sudah pulang dari kampus.
Tiba-tiba lift terhenti dan seorang pria masuk. Pria itu tampak kumal dan uhf, agak bau. Ia memakai jas lab yang sangat kotor. Tapi namanya juga jas lab kan? Tiba-tiba saat melihat pria itu masuk, Lucy langsung memegang tanganku. Ya, dia memegang tanganku!
Lucy makin merapatkan tubuhnya ke arahku. Wajahku bersemu merah, kegeeran. Aku ingin bertanya pada Lucy mengapa ia tiba-tiba melakukan itu. Namun Lucy tetap saja menatap pria yang baru saja masuk itu.
Di lantai dasar, pria itu keluar. Namun Lucy sama sekali tak beranjak keluar.
“Ada apa?” tanyaku terkekeh, “Apa dia profesormu yang suka berbuat mesum?”
“Bukan,” Lucy menjawab dengan suara penuh ketakutan.
“Kami baru saja mengotopsi mayat itu pagi ini...”

sumber; http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/01/urban-legend-4-elevator.html






BEHIND CLOSED DOOR

 Hasil gambar untuk creepy pasta BEHIND CLOSED DOOR



Tetanggaku adalah orang yang aneh. Ia sangat tertutup dan tak pernah berbicara dengan orang lain. Suamiku sering bercanda bahwa ia seorang pembunuh psikopat. Aku tak pernah menyukai lelucon semacam itu dan beranggapan bahwa mungkin tetangga kami itu adalah orang yang pemalu. Namun tetap saja tetanggaku itu membuatku merasa tak nyaman.
Suamiku bekerja dalam shift siang dan malam secara bergantian. Malam ini kebetulan ia mendapatkan shift malam. Aku tak suka tidur sendirian di rumah saat malam hari, namun apa boleh buat. Aku mencoba membuat diriku nyaman dengan menonton televisi kemudian pergi tidur.
Namun malam itu aku terbangun karena suara keras. Mungkin suamiku sudah pulang? Aku melihat ke arah jam dan waktu menunjukkan pukul 2.30 subuh. Aku panik karena suamiku selalu pulang pukul 6 pagi dan suara itu berasal dari dalam rumah! Akupun memberanikan diri untuk bangun dan mengintip dari pintu kamarku. Jantungku berdegup kencang ketika melihat tetanggaku itu mendobrak masuk ke rumahku. Dengan diam-diam aku memanggil polisi lewat telepon di kamar tidurku dan diam di sana. Aku sangat ketakutan dan terus berdoa semoga polisi segera datang.
Hatiku lega ketika polisi akhirnya datang dan mereka berhasil menangkapnya.
Aku masih berada di kamar tidurku menatap dari kejauhan ketika mereka menyeretnya ke dalam mobil polisi. Akhirnya aku selamat. Dari jendela kamar kulihat pria itu mencoba meronta dan berteriak, melawan para polisi. Ternyata memang benar tetanggaku itu gila!
“Kau tak mengerti!” jeritnya.
“Aku melihat seseorang masuk ke rumahmu!”
Saat otakku berusaha mencerna apa yang baru saja ia katakan, aku merasakan sepasang tangan membekap mulutku.

sumber:  http://mengakubackpacker.blogspot.co.id/2014/01/urban-legend-3-behind-closed-door.html